Senandungku
Mei 9th, 2010Kutatap muram rembulan yang bersinar suram dengan mata butaku.
Kuhirup sesak udara yang bergerak pelan mengunci rapat penciumanku.
Sayup,kudengar suara memanggilku,” Mari! Marilah!”
Masih saja tuli telinga ini.
Mengikut mustaka yang menengadah.
Menatap kosong langit yang tegak tenang.
Tak selangkah pun kaki ini beranjak memenuhi panggilan itu.
Meninggalkan hati yang luka dan menuju air yang jernih,mencuci diri.
Masih tersisa kotoran yang tak pernah tercuci bersih.
Menyisakan noda yang tak kunjung hilang.
Masih kutunggu cahaya itu,tanpa pernah beranjak.
Mei 10th, 2010 at 15:01
waw….Dalem banget tuh puisinya…